8 Alasan Mengapa Gaji Tidak Pernah Cukup Bagi Pekerja di Tanah Air

Siapa orangnya yang tak ingin punya pekerjaan dengan gaji berlimpah. Tentu setiap orang ingin untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi sehingga bisa memenuhi kebutuhan secara penuh. Tapi, tahukah, bahwa disekelilingi kita kadang sering terdengar selentingan saat orang bercerita tentang gajinya yang tak pernah cukup dan cenderung hanya pas untuk membiaya kebutuhan pokok saja. 

Yang lebih ironis lagi malahan, adalah ketika sebagian orang yang punya pekerjaan tetap namun masih harus “nombok” berhutang kiri dan kanan dengan alasan tak cukup untuk sekedar kebutuhan biaya pokok perbulan.

Ilustrasi ini adalah gambaran bagi sebagian besar orang di Indonesia yang menyandang profesi sebagai karyawan di perusahaan maupun industri. Sebenarnya hal ini cukup menarik untuk diambil pelajaran, mengingat bahwa sebagian besar dari masyarakat Indonesia memang berprofesi sebagai karyawan.

Sebenarnya, bila mau mempelajari secara mendalam, dan mampu melakukan pengaturan keuangan dengan baik. Menjadi karyawan juga bisa kok untuk menutup kebutuhan, bahkan lebih dan bisa ada saving. Pasalnya jumlah income tetap yang berasal dari gaji sebenarnya memudahkan untuk mengatur pendapatan. Selain itu, cobalah untuk menghindari beberapa alasan seperti yang ada dalam ulasan kali ini.

Mengungkap Alasan Dibalik Kenapa Gaji Penduduk Indonesia Tidak Pernah Cukup 

Dari berbagai rangkuman dan informasi, dapat disimpulkan sebenarnya mengapa orang Indonesia kebanyakan selalu mengeluhkan tentang gaji yang tidak pernah cukup. Karenanya, dengan mudah sebenarnya bila mau mencermati alasan-alasan tersebut bisa jadi satu acuan bagi kita agar bisa menghindari perilaku kontraproduktif yang membuat dompet selalu terancam bahkan hanya satu minggu setelah gajian.

1. Memelihara Banyak Kebiasan Buruk

Musuh pertama dari sikap hidup hemat adalah gaya hidup kita sendiri. Salah satu gaya hidup orang Indonesia yang sebenarnya buruk dan jelas berdampak langsung bagi kesehatan adalah kebiasaan merokok. Setidaknya bila masih terus hendak memelihara kebiasaan merokok maka perhatikan hitungan berikut ini :

  • 1 bungkus rokok : 20.000
  • 1 Minggu : 7 bungkus x 20.000 = 140.000
  • 1 Bulan : 30 bungkus x 20.000 = 600.000
  • 1 Tahun : 365 bungkus rokok x 20.000 = 7.300.000

Perhitungan ini adalah asumsi dasar bahwa dalam sehari, seorang perokok bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Kelihatannya mungkin kecil tapi pada dasarnya ini sama saja dengan 20 % dari gaji perbulan yang didapatkan, dengan asumsi gaji adalah 3.000.000 perbulan. Tentu kalkulasi ini terus bertambah bila jumlah bungkus rokok yang dihabiskan lebih banyak. Ini hanya satu kebiasaan buruk saja, bayangkan bila ditambah dengan kebiasaan buruk lainnya.

2. Gaya Hidup Konsumtif

Selain itu gaya hidup konsumtif juga adalah sisi lain yang turu memperparah kondisi dompet. Beberapa contoh gaya hidup konsumtif yang paling tampak antara lain, terlalu banyak membeli barang yang tidak perlu. Atau berbelanja karea tertarik promo cicilan 0% dan masih banyak lainnya.

3. Tidak Bisa Membedakan Mana Irit dan Mana Yang Pelit

“Jangan sampai mau untung malah buntung”, ada yang bilang demikian. Terkadang sikap demikan menjangkiti, maksudnya ingin irit malahan terkesan pelit ujung-ujungnya jadi rugi lebih banyak. Sebagai contoh, kasus parkir liar, karena orang enggan membayar lebih mahal untuk parkir resmi. Kelihatannya memang murah, karena hanya 2000 sekali parkir, tapi bila dikalikan tentu bisa jadi besar. Ini hanya dari segi biaya parkirnya, yang tidak kelihatan justru adalah resikonya, karena bisa jadi mobil terserempet kendaraan lain, tertabrak dan yang lebih parah, hilang karena dicuri.

4. Obsesi Mengejar Sale dan Diskon

Hal lain yang juga perlu dikenali tentu adalah sifat hobi belanja saat sale atau diskon. Yang pertama tentu bisa jadi pemborosan karena membeli barang yang tidak diperlukan. Sementara disisi lain, kadang harga pada saat sale atau diskon telah dimarkup lebih dulu, tetapi karena barang diskon biasa jumlahnya terbatas, ada kemungkinan mendapatkan yang berkualitas rendah atau barang cuci gudang.

5. Tak Mengcover Diri Dengan Layanan Finansial

Data dari Worl Bank menunjukan bahwa 49% masyarakat Indonesia masih belum tersentuh dan tidak mengerti pentingnya layanan finansial perbankan. Macam-macam jadi alasannya, 79% mengatakan tidak memiliki layanan perbankan, termasuk juga tentunya rekening bank, dan sisanya mengatakan alasan lain-lain, termasuk tidak merasa mendapat manfaat dari menabung, tidak punya pekerjaan tetap sehingga perlu rekening sebagai sarana pay roll dari bank dan sejenisnya. Ini tentu mengejutkan, karena dengan demikian maka ada kemungkinan banyak warga masyarakat yang belum melek terhadap pentingnya layanan finansial.

6. Pendapatan dan Pengeluaran Ibarat Besar Pasak Daripada Tiang

Kondisi besar pasak daripada tiang juga adalah masalah tersendiri. Yang demikian terjadi karena jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan terlalu banyak ketimbang pemasukan, bila dirumuskan kira-kira adalah demikian : kebutuhan+keinginan+tagihan+lain-lain = pengeluaran rutin. Tentu sudah terbagi seluruhnya kedalam pos pengeluaran tersebut, akibatnya, gaji tak cukup dan cenderung masih harus nombok.

7. Enggan Membuat Anggaran Perbulan dan Tidak Menyadari Pentingnya Investasi

Jarang sekali ada orang Indonesia yang punya anggaran pasti perbulan, ini karena adanya pos pengeluaran yaitu biaya keinginan, serta faktor pembiayaan lain-lain. Kalaupun dibuat atau ada rincian anggaran pribadi perbulan, ini hanya diatas kertas dan jarang diimplementasikan dengan baik.

Masalah berikutnya juga merupakan mata rantai, karena jarang sekali ada yang tahu pentingnya investasi. Kebanyakan berpikir bahwa menabung saja sudah cukup, padahal ada faktor lain seperti misalnya inflasi dan gangguan finansial makro lainnya.

8. Punya Terlalu Banyak Kartu Kredit, Dan Membayar Hanya Pada Jumlah Minimum

Punya kartu kredit sebenarnya adalah keuntungan asal tau cara mengelola yang benar. Bila tidak maka akan jadi bencana keuangan, apalagi bila sudah sukses aplikasi kartu kredit yang pertama, selanjutnya kecanduan dengan kemudahan kartu kredit, akhirnya terus mengajukan hingga terlalu banyak pegang kartu kredit.

Sementara itu, kemampuan membayar tagihan kartu kreditnya hanya sampai batas jumlah minimum, tidak termasuk bunga cicilan tagihan kartu kreditnya juga. Padahal yang demikian akan memperparah keuangan. Pasalnya, bila belum lunas tagihan di bulan sebelumnya akan diakumulasikan di bulan berikutnya, semakin menunggak maka semakin besar bunga yang harus dibayarkan. Belum lagi kalau jumlah kartu kreditnya banyak.

Bijak dalam mengelola keuangan pribadi, dengan tahu alasan-alasan diatas adalah sumber dari kecukupan keuangan dari gaji setiap bulannya. Selain itu, tentu akan menghindarkan diri dari faktor stress sebagai penyebab gangguan kesehatan, yang ujungnya memperparah tagihan keuangan bila sampai sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *